Awal Q4 2023, saya duduk di coworking space Jakarta Selatan, menatap dashboard email yang menunjukkan open rate 12% dan CTR 1,8%. Rasanya seperti menonton lagu favorit yang tiba-tiba patah di tengah refrain — bikin frustasi. Tim menunggu, timeline menekan, klien mulai bertanya. Saya tahu harus berbuat sesuatu cepat. Di sinilah perjalanan eksperimen AI dimulai; bukan karena tren, tapi karena kebutuhan nyata.
Awal Mula: Ketika Open Rate Buntung
Setting: deadline kampanye promo B2B, anggaran terbatas, dan daftar email yang terasa “dingin”. Konflik jelas — pesan kami tidak nyambung. Saya ingat duduk sendiri jam 2 pagi, ngobrol dalam kepala, “Apa yang mereka mau dengar?” Itu momen jujur: saya tidak punya jawaban yang cukup data-driven. Keputusan spontan: tes AI untuk subject line, preview text, dan segmentasi. Saya baca beberapa artikel (termasuk satu case study yang menarik di techmarketingzone) sebelum memilih tool yang akan dipakai.
Eksperimen AI: Dari Subject Line hingga Segmentasi
Prosesnya praktis dan berantakan—tepat seperti eksperimen seharusnya. Pertama, saya pakai generator subject line berbasis model besar untuk membuat 50 varian subject. Saya tidak langsung kirim semuanya. Saya pilih 8 yang paling “manusiawi” dan jalankan A/B test kecil ke sampel 5% daftar. Hasilnya tidak instan, tapi memberi insight: subject yang memicu curiosity + kata action langsung (mis. “Cara X hemat 30% biaya proses Anda”) outperform subject yang emotif tapi samar.
Kedua, tool AI melakukan clustering perilaku pelanggan — bukan sekadar demografi, tapi pola buka email, waktu aktif, dan halaman produk yang sering dikunjungi. Di sini AI berubah jadi asisten riset. Saya terkejut menemukan segmen kecil (8% daftar) yang selalu buka email antara jam 20.00-22.00. Mengirim versi yang sama di jam itu menaikkan open rate segmen itu sebesar 60%.
Ketiga, saya gunakan sentiment analysis untuk menilai bahasa isi email. Email panjang dengan jargon teknis ternyata menurunkan CTR pada segmen non-teknis. Solusi? Versi pendek, manfaat awal, CTA jelas. AI bantu menulis versi ringkas yang tetap menyentuh pain point — dan tetap SEO-aware: judul dan anchor text diarahkan ke landing page yang sudah dioptimasi keyword untuk top-of-funnel queries.
Hasil Nyata: Angka yang Bikin Terkejut
Hasilnya bukan cuma perasaan. Dalam 6 minggu, open rate rata-rata naik dari 12% menjadi 22%. CTR naik dari 1,8% ke 4,5%. Conversion rate pada landing page yang didorong email juga naik 18%—bukan aja karena copy yang lebih baik, tapi karena email mengirim traffic dengan intent lebih jelas ke halaman yang sudah dioptimasi SEO. Deliverability pun membaik: spam complaints turun karena subject relevan dan list cleaning yang terotomasi oleh AI.
Saya ingat momen cek grafik di pagi hari—ada lonjakan. Napas saya terhenti sebentar. “Ini bukan kebetulan,” kata saya dalam hati. Tim pun lebih percaya. Klien? Mereka mulai merealokasi budget ke email karena ROI-nya jadi lebih jelas.
Pembelajaran yang Bikin Kampanye Lebih Nyambung (dan SEO-Friendly)
Ada beberapa pembelajaran praktis yang saya bawa pulang dan langsung saya ajarkan ke tim: pertama, AI itu amplifier, bukan pengganti. Tulisan yang terasa human masih harus diverifikasi manusia. Kedua, data kecil bisa memantik perubahan besar—uji di segmen 5-10% sebelum scale. Ketiga, sinkronkan email dan SEO: gunakan keyword intent di subjek, preview, dan anchor text sehingga traffic yang datang ke situs punya relevansi dan waktu tinggal lebih lama. Terakhir, jangan abaikan timing — send-time optimization terbukti krusial.
Refleksi personal: awalnya saya skeptis. Ada suara kecil yang bilang, “Jangan serahkan kreativitas ke mesin.” Sekarang saya lihat AI sebagai alat yang mengeksekusi hipotesis kreatif dengan kecepatan dan konsistensi yang manusia sulit capai. Tapi saya juga belajar untuk mendengarkan feeling—kadang varian subject yang datar secara statistik, terasa paling sesuai brand voice.
Jika Anda sedang stuck dengan kampanye email, mulailah kecil: bersihkan data, tentukan metrik yang jelas, dan jalankan satu eksperimen AI yang terukur. Hasilnya mungkin tidak instan, tapi akan jelas. Pengalaman saya membuktikan: ketika AI dan intuisi manusia dipadukan dengan proses yang disiplin, email campaign tidak hanya “lebih nyambung”—mereka juga jadi kontributor nyata untuk strategi SEO dan bisnis Anda.